Bukan Sekadar Sanksi, LPP ATLANTARA Tekankan Pentingnya Disiplin yang Mendidik di Sekolah

Bukan Sekadar Sanksi, LPP ATLANTARA Tekankan Pentingnya Disiplin yang Mendidik di Sekolah
Share It !

Suaraborneosatu.com – Makassar,- Lembaga Pemantau dan Pemerhati Pendidikan ATLANTARA (LPP ATLANTARA) mendorong Bosowa School Makassar menjadi salah satu rujukan pembelajaran pengelolaan kedisiplinan dan pendidikan karakter. Dorongan itu muncul setelah lembaga tersebut mengapresiasi pendekatan kepemimpinan dan penyelesaian masalah (problem solving) yang diterapkan Kepala Sekolah Bosowa School Makassar, Miss Tika.   27 Oktober 2026.

Ketua Umum LPP ATLANTARA, Fadel Sofyan, menilai kedisiplinan siswa tidak cukup dibangun melalui aturan tertulis. Sekolah perlu memastikan prosedur operasional standar (SOP) dijalankan secara konsisten, adil, dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Menurut dia, SOP seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen administratif. Penerapannya perlu menjadi bagian dari budaya sekolah yang membentuk tanggung jawab, integritas, dan perilaku positif siswa.

“Menjadi pendidik itu tidak mudah, tetapi kita harus tetap melakukan yang terbaik untuk anak. Disiplin bukan untuk menghukum, melainkan mendidik. Pendidik juga harus menjadi teladan bagi anak: tegas dalam aturan, adil dalam proses, dan konsisten dalam pembinaan,” demikian pernyataan yang disampaikan pada Selasa (27/10/2026).

Pendekatan tersebut menempatkan konsekuensi atas pelanggaran sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar sarana menjatuhkan hukuman. Siswa perlu memahami kesalahan, konsekuensi tindakannya, sekaligus memperoleh kesempatan untuk memperbaiki perilaku.

Dalam materi yang disampaikan, Miss Tika menekankan tiga prinsip utama dalam penerapan kedisiplinan, yakni mendidik, adil, dan proporsional. Konsekuensi, menurut prinsip tersebut, harus membantu siswa belajar dari kesalahan, bukan sekadar menimbulkan ketakutan.

Prinsip keadilan juga menuntut sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan persoalan sebelum mengambil keputusan. Sementara itu, prinsip proporsionalitas mengharuskan penanganan pelanggaran mempertimbangkan tingkat keseriusannya, mulai dari pelanggaran ringan hingga berat.

“Setiap pelanggaran tetap ada konsekuensi yang tegas, tetapi setelah itu kami duduk bersama, kami dengarkan alasan anak, dan kami bina. Setiap anak punya peluang melakukan kesalahan, tetapi setiap anak juga punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik,” demikian pernyataan yang diatribusikan kepada Miss Tika.

Bagi LPP ATLANTARA, keseimbangan antara ketegasan dan pendekatan humanis menjadi aspek penting dalam tata kelola pendidikan. Aturan yang diterapkan secara konsisten dapat menumbuhkan tanggung jawab, sedangkan pembinaan membantu siswa memahami dampak tindakannya dan memperbaiki perilaku.

Direktur Hubungan Antar Lembaga LPP ATLANTARA, Muh. Rusdi, turut mengapresiasi pendekatan pembinaan kedisiplinan di Bosowa School Makassar. Ia menilai penerapan aturan perlu disertai tujuan pendidikan yang jelas agar konsekuensi tidak berhenti pada pemberian sanksi.

Sebagai tindak lanjut, LPP ATLANTARA merekomendasikan Bosowa School Makassar sebagai salah satu kandidat lokasi benchmarking atau kunjungan pembelajaran bagi lembaga pendidikan lain. Aspek yang dapat dipelajari mencakup kepemimpinan sekolah, penerapan SOP, pengelolaan kedisiplinan, serta penyelesaian masalah berbasis pembinaan karakter.

Meski demikian, rekomendasi tersebut perlu diikuti penelaahan terhadap prosedur yang diterapkan, konsistensi pelaksanaan, serta dampaknya terhadap perilaku dan perkembangan siswa. Langkah ini penting agar praktik yang dinilai positif tidak hanya menjadi contoh secara administratif, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi proses pendidikan.

Bagi LPP ATLANTARA, keberhasilan pendidikan karakter tidak semata-mata diukur dari kepatuhan siswa terhadap aturan. Pendidikan juga harus membantu siswa memahami alasan di balik aturan, bertanggung jawab atas tindakannya, dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri.

Ketegasan tanpa pembinaan berisiko menjadikan disiplin sekadar kepatuhan. Sebaliknya, pendekatan humanis tanpa konsistensi dapat mengaburkan makna aturan. Tantangan sekolah adalah menjaga keduanya berjalan beriringan agar kedisiplinan benar-benar menjadi bagian dari proses pendidikan.

 

Pewarta: Robby Rambi

Editor: Daryono spt, C.BJ. C.JI. C.LWI

Dion

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: KONTEN DILINDUNGI !!