POROS 98 : Prabowo Disadap, Sigit dan Jokowi Terseret: Saat Elite Saling Mengintai, Rakyat Ditinggal Menderita
Suaraborneosatu.com – Jakarta,- Dalam Press conference POROS 98 di Tebet BILUNG SILAEN Aktivis 98 Dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto bukan lagi sekadar isu intelijen. Ini adalah alarm keras bahwa negara ini sedang berjalan mundur.
Ketika seorang presiden saja bisa disadap, lalu nama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ikut terseret, dan bayang-bayang Joko Widodo masih terus menghantui dari balik kekuasaan, maka pertanyaannya bukan lagi siapa menyadap siapa. Pertanyaannya adalah: siapa sebenarnya yang kini mengendalikan negara ini? ujar bilung silaen
Bilung Silaen mengatakan penyadapan adalah puncak dari negara yang tidak lagi percaya pada rakyatnya, dan tidak lagi percaya pada pemimpinnya sendiri. Elite saling mengintai. Elite saling merekam. Elite saling menyimpan kartu untuk menjatuhkan. Sementara di bawah, rakyat dibiarkan saling berebut bertahan hidup.
Lihatlah kenyataannya hari ini. Harga-harga naik. Lapangan kerja menyempit. Usaha kecil mati satu demi satu. Petani, buruh, ojol, pedagang pasar, mahasiswa, semua mengeluh hal yang sama: hidup makin susah.
Tapi apa yang sibuk diurus di atas? Bukan harga beras. Bukan nasib buruh. Bukan pendidikan. Yang sibuk diurus adalah penyadapan, jabatan, dan siapa yang masih punya pengaruh setelah Jokowi.
Ini adalah kemunduran yang paling nyata. Di era reformasi, kita berjuang agar kekuasaan tidak lagi menggunakan alat sadap untuk membungkam lawan. Hari ini, alat itu kembali hidup. Bukan untuk melawan musuh negara, tapi untuk mengintai sesama penguasa.
Bilung Silaen mengatakan Jika Listyo Sigit benar terseret dalam pusaran ini, maka institusi Polri tidak lagi berdiri sebagai pelindung rakyat, tapi telah berubah menjadi alat dalam perebutan kekuasaan elite. Dan jika nama Jokowi terus muncul di setiap pusaran, itu membuktikan transisi kekuasaan tidak pernah benar-benar terjadi. Yang terjadi hanya pergantian wajah, bukan pergantian sistem.
Prabowo membawa harapan perubahan Tapi yang dirasakan rakyat justru kemunduran. Demokrasi menyusut. Kebebasan berpendapat makin sempit. Kritik dianggap ancaman. Sementara ekonomi rakyat makin terjepit.
Rakyat tidak butuh presiden yang disadap dan sibuk membalas penyadapan. Rakyat butuh presiden yang bekerja. Rakyat butuh harga stabil, kerja tersedia, hukum tegak, dan negara yang tidak menakut-nakuti warganya sendiri.
Penyadapan Prabowo adalah simbol. Simbol bahwa kekuasaan hari ini lebih sibuk menjaga dirinya sendiri daripada menjaga rakyatnya. Dan selama kekuasaan sibuk saling menyadap, rakyat akan terus menjadi korban yang paling menderita.
Bilung silaen menegaskan: Hentikan politik sadap-menyadap. Kembalikan negara kepada rakyat. Jangan biarkan Prabowo, Sigit, dan Jokowi membawa bangsa ini semakin mundur ke era kegelapan.
” Setiap tempat adalah Karbala ”
” setiap waktu adalah Asyura ”
Tuhan bersama orang-orang yang berani dan benar
MERDEKA 100 %
Tim/Red
